Kamis, 12 Mei 2011

BORRELIA RECURANTS

BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Louse-borne relapsing fever (LBRF), yang disebabkan oleh Borrelia reccurrentis, adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya yang dibawa oleh arthropoda. B. recurrentis merupakan bakteri spirokheta yang berbentuk spiral dan bergerak dengan cara membelit. Penyakit demam berulang ini bersifat endemik di berbagai tempat di dunia. Karakteristik penyakit ini muncul sebagai epidemi apabila ditularkan oleh tungau, sedangkan bersifat endemis apabila ditularkan melalui kutu. Penyakitnya berlangsung secara mendadak, demam menggigil, sakit kepala hebat, seringkali disertai nyeri otot dan persendian, limpa agak membesar dan gejala-gejala ikterus. Pencegahan terutama dilakukan dengan cara menghindari kontak atau berdekatan dengan tungau atau kutu dan memberantas kedua macam arthropoda tersebut, baik dengan cara menjaga kebersihan atau dengan menggunakan insektisida. Pengobatan yang saat ini digunakan adalah dengan tetrasiklin, klortetrasiklin dan penisilin.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mengetahui tentang ”Bakteri Borrelio Recurents.
2. Tujuan Khusus
Mampu memahami :
a. Memahami Aspek Biologi borrelio
b. Memahami Morfologi borrelio
c. Memahami Klasifikasi borrelio
d. Memahami Siklus Hidup borrelio
e. Memahami menyebabkan penyakit B.recurrentis,Penyebaran,Penularan dan Pencegahan,Gejala dan Pengobatan  
BAB II
PEMBAHASAN
1. Aspek Biologi
A. Morfologi
Ciri-ciri khas organisme :
Borrelia recurrentis berbentuk spiral tidak teratur, panjangnya 10-30 μm dan lebarnya 0,3 μm. Jarak antara putaran spiral berkisar antara 2-4 μm. Dapat bergerak aktif dan sangat fleksibel, bergerak dengan rotasi atau membelit. B. recurrentis mudah diwarnai dengan zat warna bakteriologik maupun dengan zat warna darah seperti Giemsa atau Wright. Bakteri ini termasuk ke dalam jenis bakteri gra
Biakan :
Bakteri ini dapat diinokulasikan pada anak tikus dan pada selaput korioalantois telur ayam berembrio. Bakteri dapat ditanam dalam cairan hidrokel, serum, atau cairan asites yang mengandung potongan ginjal yang masih segar. Jika terlalu lama dipindah-biakkan in vitro, virulensinya akan berkurang sebagaimana terlihat pada hasil percobaan infektifitas pada tikus. Bakteri ini bersifat anaerob obligat dan memerlukan lipid untuk pertumbuhannya, selain itu juga dapat memanfaatkan lisolesitin.

Sifat- sifat Pertumbuhan :
Suhu pertumbuhan optimum antara 28-30oC dan dapat disimpan lama pada suhu -76oC. Dalam darah ataupun dalam perbenihan yang disimpan pada suhu 4oC, bakteri dapat bertahan beberapa bulan. Dalam tubuh beberapa jenis sengkenit (tick) yang lunak dari genus Ornithodoros, bakteri ini dapat diturunkan dari generasi-generasi, sedangkan pada Pediculus humanus subspecies humanus tidak.
Variasi :
Satu-satunya variasi Borrelia yang bermakna adalah dalam hal struktur antigeniknya.
Struktur Antigen
Banyak strain B. recurrentis yang berhasil diisolasi dari berbagai tempat di dunia asalnya dari berbagai hospes dan vektor. Beberapa strain lebih mudah tumbuh dalam vektor tertentu, sedangkan strain lainnya lebih mudah tumbuh dalam vektor yang berlainan. Perbedaan itu tidak selalu tetap demikian.
Struktur antigen Borrelia tidak mantap dan hal ini merupakan penyebab terjadinya relaps. Jika bakteri ditanam dalam darah yang diambil dari penderita sebelum berlangsungannya serangan relaps, maka bakteri dapat tetap hidup selama 40 hari. Tetapi jika ditanam dalam darah yang diambil dari penderita pada waktu serangan mulai mereda, maka bakteri akan mati dalam waktu kurang dari satu jam, karena dalam darah penderita sudah terbentuk spirokhetisida.
Dapatlah disimpulkan bahwa relaps terjadi karena adanya bakteri-bakteri yang tahan terhadap efek spirochetisida. Bakteri-bakteri ini dapat berkembang biak dengan leluasa dan kemudian muncul sebagai strain baru. Bakteri-bakteri yang diisolasi setelah terjadinya beberapa kali relaps, secara serologik berbeda dengan bakteri yang diisolasi dari serangan yang pertama.
Serum yang diambil setelah terjadinya relaps bersifat protektif terhadap bakteri penyebab serangan inisial dan relaps. Penyembuhan terakhir setelah 3-10 kali relaps, diduga terjadi seolah di dalam tubuh penderita terbentuk antibodi terhadap beberapa varian antigen sekaligus.
B. Klasifikasi
1. Kingdom : Bacteria
2. Filum : Spirochaetes
3. Kelas : Spirochaetes
4. Ordo : Spirochaetales
5. Famili : Spirochaetaceae
6. Genus : Borrelia
7. Spesies : Borrelia recurrentis
C. Siklus Hidup
Borrelia recurrentis merupakan penyebab demam berulang epidemik dengan Pediculus humanus subspesies humanus sebagai vektornya. Pediculus humanus, pada saat tungau itu menggigit sehingga mencemari luka atau cairan sendi dari kutu argasid. Jenis argasid tersebut terutama adalah Ornithodoros bermsi dan O. Turicata di Amerika Serikat, O. Rudis dan O. Talafe di Amerika Tengah dan Selatan, O. Moubata dan O. Hispanica di Afrika dan o. Tholozani Timur Tengah dan Timur Dekat. Kutu-kutu ini biasanya makan pada waktu malam hari, mereka makan secara cepat dan kemudian meninggalkan host-nya; mereka mempunyai masa hidup yang panjang yaitu selama 2-5 tahun dan tetap infektif selama masa hidupnya.
Kutu yang telah mengisap darah penderita dapat menjadi sumber infeksi bagi orang-orang di sekitarnya dan penularan terjadi sebagai akibat gosokan bangkai kutu pada luka gigitan(bakteri dikeluarkan dan memasuki kulit yang sudah digaruk atau digigit). Pada saat kutu tersebut menginfeksi penderita melalui membran mukosa, B. recurrentis dilepaskan ke dalam tubuh penderita bersamaan dengan aliran darah. Pada kasus-kasus fatal, bakteri ini dalam jumlah besar dapat ditemukan dalam bentuk spirokheta di dalam limpa, hati, dalam organ parenkim lainnya yang telah mengalami nekrosis, dan dalam lesi-lesi hemoragik di dalam ginjal traktus garstrointestinal. Pada penderita dengan meningitis, bakteri dapat ditemukan dalam likuor serebropinalis dan jaringan otak. Ternyata pada binatang percobaan, otak dapat merupakan reservoir setelah bakteri menghilang dari peredaran darah.
Spirokheta merupakan batang berspiral, mudah dilentur, berdinding tipis. Kuman ini bergerak dengan gerak mengombak dari suatu filament aksial yang melilit sekitar badan sel. Filamen aksial terbentuk dari 2 berkas flagel kutub yang terletak di antara selaput sel dan dinding sel, filament ini dapat dilepaskan melalui pencernaan enzim dari penutup luar. Tiga genus yang mengandung kuman pathogen penting terhadap manusia: Treponema, Borrelia, dan Leptospira.
2. Penyakit
B.recurrentis ini menyebabkan penyakit demam berulang (relapsing fever). Relapsing fever ini bersifat endemik pada banyak bagian dunia, yang penyebaran, penularan dan gejalanya adalah sebagai berikut :
1. Penyebaran
Demam berulang bersifat endemik di berbagi tempat di dunia. Karakteristik penyakit ini muncul sebagai epidemi apabila ditularkan oleh tungau, sedangkan bersifat endemis apabila ditularkan melalui kutu. Louseborne relapsing fever terjadi di daerah yang terbatas di Asia, Afrika Timur (Ethiopia dan Sudan), daerah dataran tinggi d Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Tickborne disease merupakan penyakit endemis di seluruh Afrika tropis, beberapa fokus ditemukan di Spanyol, Afrika Utara, Saudi Arabia, Iran, India dan sebagian Asia tengah, begitu pula di Amerika Utara dan Selatan. Kasus terjadi sporadis pada manusia dan sesekali muncul KLB (kejadian luar biasa) di sebagian barat Amerika Serikat dan Kanada bagian Barat. Untuk B. reccurrentis reservoirnya adalah manusia, sedangkan untuk tickborne relapsing fever borreliae, yang berperan sebagai reservoir adalah binatang pengerat liar dan kutu argasid (lunak) melalui penularan transovarian yang merupakan sumber infeksi bagi Ornithodoros. Penyebaran dan insidensnya bergantung kepada ekologi Ornithodoros yang bersangkutan.
2. Penularan dan Pencegahan
Perlu diingat bahwa dalam tubuh sengkenit (tungau) lunak ini dapat terjadi transmisi Borrelia dari generasi ke generasi secara transovarium. Bakteri dapat ditemukan di seluruh jaringan tubuh sengkenit. Penularan terjadi lewat gigitan atau penghancuran sengkenit. Penyakit yang ditularkan oleh sengkenit ini bersifat sporadik.
Jika penderita demam berulang tersebut juga terjangkit kutu (Pediculus humanus), maka 4-5 hari kemudian kutu yang telah mengisap darah penderita dapat menjadi sumber infeksi bagi orang-orang di sekitarnya dan penularan terjadi sebagai akibat gosokan bangkai kutu pada luka gigitan. Penularan oleh kutu manusia ini dapat mengakibatkan terjadinya epidemi pada penduduk yang telah terjangkit kutu dan penyebaran dipermudah dalam keadaan tertentu, antara lain penduduk yang sangat padat, kekurangan gizi dan pada iklim yang dingin. Di daerah endemik, kadang-kadang infeksi pada manusia terjadi sebagai akibat kontak dengan darah atau jaringan binatang mengerat yang telah terkena infeksi. Pada kasus-kasus sporadik mortalitasnya rendah, tetapi pada kasus epidemik mortalitasnya dapat mencapai 50%.
Pencegahan terutama dilakukan dengan cara menghindari kontak atau berdekatan dengan sengkenit atau kutu dan memberantas kedua macam arthropoda tersebut, baik
dengan cara menjaga kebersihan atau dengan menggunakan insektisida seperti penyemprotan dengan permethrin sebanyak 0,003 – 0,3 kg/hektar (2,47 acre) terhadap lingkungan di sekitar penderita. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah endemis sediakan fasiltas untuk mandi dan mencuci pakaian secukupnya dan lakukan kegiatan active survellance. Apabila infeksi menyebar, lakukan penaburan permethrin secara sistematis kepada semua anggota masyarakat sedangkan untuk tickborne relapsing fever, permethrin atau arcaricide lainya ditaburkan di wilayah dimana kutu sebagai vektor penyakit ini diperkirakan ada di wilayah tersebut. Agar sustainabilitas upaya pemberantasan tercapai maka lakukan upaya-upaya di atas selama masa penularan dengan siklus setiap bulan sekali. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat digunakan untuk pencegahan.
3. Gejala
Semua bentuk demam berulang memberikan gejala klinik yang serupa. Penyakitnya berlangsung secara mendadak, demam menggigil, sakit kepala hebat, seringkali disertai nyeri otot dan persendian, limpa agak membesar dan gejala-gejala ikterus. Masa tunas antara 3-10 hari. Dalam waktu demam, bakteri dapat ditemukan di dalam darah.
Pada stadium awal, bisa timbul kemerahan di daerah yang tertutup celana pendek, lengan dan tungkai. Dokter bisa melihat adanya pembuluh darah yang pecah pada lapisan yang menutupi bola mata dan pada kulit serta selaput lendir. Sejalan dengan berkembangnya penyakit, bisa timbul demam, sakit kuning, pembesaran hati dan limpa, peradangan jantung dan gagal jantung; terutama pada infeksi yang ditularkan tuma.
Demam berlangsung selama 3-5 hari, kemudian suhu menurun dan meninggalkan penderita dalam keadaan tidak demam, tetapi dengan keadaan tubuh yang lemah.
Masa tanpa demam berlangsung selama 4-10 hari dan segera diikuti dengan serangan kedua dengan gejala-gejala yang sama dengan serangan yang pertama. Serangan-serangan tersebut dapat terjadi berulang-ulang 3-10 kali, pada umumnya dengan gejala-gejala yang semakin ringan. Dalam waktu tidak demam, bakteri tidak dapat ditemukan di dalam darah. Bakteri jarang ditemukan di dalam air seni. Antibodi terhadap Borrelia muncul dalam masa demam dan kemungkinan efek aglutinasi dan

lisisnya dapat dengan segera mengakhiri serangan. Varian yang tidak terkena efek ini dengan leluasa berkembang biak dan menimbulkan serangan baru. Pada seorang penderita yang telah mengalami beberapa kali serangan, dapat diisolasi beberapa varian antigen. Keadaan ini juga dapat dijumpai pada percobaan inokulasi dengan satu macam bakteri.
Setelah 7-10 hari, demam dan gejala lainnya kembali muncul secara tiba-tiba, sering disertai dengan nyeri sendi. Sakit kuning serta timbul pada saat demam kambuh. Demam kambuhan yang ditularkan tuma biasanya disertai oleh kambuhan tunggal, sedangkan kambuhan yang multiple (2-10 kali dengan jarak 1-2 minggu) terjadi pada saat demam kambuh yang ditularkan oleh kutu anjing. Periode demam secara bertahap akan berkurang, dan akhirnya penderita akan sembuh sejalan dengan terbentuknya kekebalan
Adapun komplikasi dari penyakit ini adalah peradangan mata, asma, dan eritema multiformis (erupsi kemerahan) di seluruh tubuh. Peradangan juga bisa mengenai otak, medulla spinalis dan iris mata. Wanita hamil bisa mengalami keguguran.
4. Pemeriksaan laboratorium
Bahan pemeriksaan berasal dari darah yang diambil dari penderita pada waktu demam meningkat. Dibuat sediaan darah tebal yang diwarnai secara Wright atau Giemsa dan dicari bakteri di antara sel-sel darah merah. Selanjutnya darah diinokulasikan secara intraperitoneum pada tikus. Setelah 2-4 hari dibuat sediaan darah ekor dan dicari bakterinya. Tes pengikatan komplemen dapat dikerjakan dengan menggunakan kuman yang ditanam dalam suatu perbenihan sebagai antigen, ternyata cara penyediaan antigen yang baik tidaklah mudah, dan pada umumnya hasil tes serologi kurang bermanfaat untuk diagnosis, dikarenakan oleh banyaknya varian antigen yang dapat ditemukan pada seorang penderita. Pada penderita dengan demam berulang epidemik dapat terbentuk aglutinin terhadap bakteri Proteus OXK dan serum penderita juga memberikan hasil positif pada tes VDRL.
5. Imunitas
Setelah suatu infeksi, pada tubuh penderita terbentuk antibodi lisis, aglutinin dan spirokhetisidin. Pada umumnya imunitas yang terbentuk setelah suatu serangan demam
berulang bersifat jangka pendek. Imunitas jangka panjang dapat terbentuk, jika infeksinya menetap, yaitu imunitas terhadap superinfkesi yang kemungkinan merupakan imunitas seluler.
6. Pengobatan
Jenis Obat & Cara Penggunaan
Banyaknya variabilitas dari remisi spontan pada relapsing fever membuat evaluasi kemoterapj sulit dilakukan. Pengobatan dengan tetrasiklin, terutama klortetrasiklin merupakan obat pilihan. Penisilin ternyata juga efektif untuk pengobatan. Selain antibiotika kepada penderita demam berulang juga perlu diberikan cairan dan elektrolit.
Biasanya diberikan per-oral (melalui mulut), tetapi bisa juga diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) jika terjadi muntah-muntah yang berat yang membuat penderita sulit menelan.
Untuk mencapai hasil yang optimal, pengobatan harus dimulai pada stadium awal demam atau selama suatu interval yang tanpa gejala. Pengobatan yang dimulai pada akhir dari suatu periode demam, bisa memi cu terjadinya reaksi Jarisch-Herxheimer, dimana demam yang sangat tinggi disertai tekanan darah yang turun-naik (kadang sampai tekanan rendah yang berbahaya). Reaksi ini sangat khas dan kadang berakibat fatal. Dehidrasi diobati dengan cairan yang diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). Nyeri kepala hebat diobati dengan obat pereda nyeri seperti kodein. Untuk mual-mual bisa diberikan dimenhidrinat atau proklorperazin.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Borrelia recurrentis berbentuk spiral tidak teratur, panjangnya 10-30 μm dan lebarnya 0,3
Bakteri ini dapat diinokulasikan pada anak tikus dan pada selaput korioalantois telur ayam berembrio.
Suhu pertumbuhan optimum antara 28-30oC dan dapat disimpan lama pada suhu -76Oc.
Satu-satunya variasi Borrelia yang bermakna adalah dalam hal struktur antigeniknya.
Klasifikasi : Kingdom : Bacteria,Filum : Spirochaetes,Kelas : Spirochaetes,Ordo : Spirochaetales,Famili : Spirochaetaceae,Genus : Borrelia,Spesies : Borrelia recurrentis.
B.recurrentis ini menyebabkan penyakit demam berulang (relapsing fever). Relapsing fever ini bersifat endemik pada banyak bagian dunia, yang penyebaran, penularan dan gejalanya.
B. SARAN
Semoga tugas ini bermanfaat bagi kita semua,dan semoga makalah bisa sempurna dengan kritikan dan saran bagi seluruh pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/fitriana-susanti-078114108.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar